“Ingat” Miras Bukan Budaya Orang Asli Papua
Pewarta: Redaksi
| 462 Dibaca
EDISI TERBIT: 8 Juli 2020
Benyami Magay, S.s. M. Fil. (Foto:Dok.Pribadi)

 

Oleh: Benyami Magay, S.s. M. Fil.

Minuman keras (Miras) merupakan minuman beralkohol yang mengandung etanol yang dihasilkan dari penyulingan (yaitu berkosentrasi lewat distilasi) etanol diproduksi dengan cara fermentasi biji-biji, buah atau sayur. Contoh minuman keras adalah arak, bobo, saguer, vodka, gin, wiski, brendi, soju, dan lainya.

Di Indonesia, Definisi Miras dan minuman beralkohol tercampur aduk dan cendrung dianggap barang yang sama sehingga juga meliputi minuman frementasi yang tidak disulung seperti bir, tuak anggur dan cider. Dengan definisi dan pembuatan MIRAS ini, ada tiga golongan miras yang mempunyai golongan alkoholnya antara lain, Pertama, kadar etanol 1-5% (bir), Kedua, kadar etanol, 5-20% (anggur/wine) dan Ketiga, kadar etanol 20-45% ( Whiskey, vodka, jony, walker dan lain-lain.

Lalu saya, kini juga telah menemukan Miras Oplosan, mengandung kadar etanolnya atau alkholnya berapa? Karena minuman oplosan ini tidak jelas. Tanpa disadari sangat berbahaya bagi orang Papua yang mengakibatkan kematian setelah mengkonsumsi Miras Oplosan ini. Menjadi pertanyaan adalah apa sebabnya ? Bagi Penulis ingin meyampaikan bahwa sebabnya adalah semua orang dapat menciptakan Miras Oplosan versi mereka yang tidak tahu kadar alkoholnya atau kadar etanolnya maka tentu banyak orang Papua meninggal, dimana ketika itu dimulai sejak Orang Asli Papua (OAP) mengenal kehidupan Miras yang mematikan ini.

Bila dilihat dari wilayah ada Mee-Pago tentunya kita telah mencatat kejadian belum lama ini, di kabupaten Dogiyai pada tahun 2017 banyak generasi muda Papua meninggal akibat mengkonsumsi  Miras  Versi Oplosan dan ini memang sangat berbahaya dapat membuat korban Nyawa. Sama halnya terjadi di Tahun 2020 saat ini, di kabupaten Timika, di Iwaka 7 orang dan di Timika kota 11 orang meninggal akibat konsumsi Miras versi Oplosan. Tentunya diluar sana , masih banyak orang Papua yang belum terdata menjadi korban Miras Oplosan di Papua maupun di luar tanah Papua.

Pemprov Papua hancurkan ribuan botol Miras di depan kantor Gubernur Papua beberapa waktu lalu . (Foto:Istimewa)

Jika kita melihat secara persentase bahwa dampak dari pengaruh orang Papua terutama generasi muda Papua dalam mengkonsumsi miras sekitar 70% pernah Miras. Miras ini pun dikonsumsi juga kaum hawa atau perempuan. Tentu tidak semua laki-laki dan perempuan konsumsi Miras. Namun secara analisa persentase saya adalah 70% Miras dan 25 % tidak Miras hal ini menjadi keprihatinan kita bersama di Papua.

Situasi kehidupan yang terjadi saat ini, maka ingin saya menyampaikan sebagai salah satu Intelektual muda telah menyimpulkan juga bahwa yang pertama, OAP khususnya generasi muda, belum menemukan jati diri sebagai OAP yang mempunyai budaya dan tradisi yang tak terpisahkan dari kehidupannya. yang kedua adalah OAP adalah suku bangsa yang tidak memiliki budaya Miras dalam hidupnya. Hal itu merupakan suatu pencerahan kepada semua orang Papua bahwa, kini seolah-olah konsumsi Miras adalah budaya OAP.

Dengan demikian saya, menghimbau kepada Generasi muda OAP berhenti konsumsi Miras, bila anda ingin hidup lebih lama di bumi Papua. Belajar dan takutlah pada pengalaman-pengalaman kematian yang terjadi saat ini,Sudah saatnya kita keluar dari jeratan Miras yang hanya merugikan dan menghancurkan anak cucu kita. Sudah saatnya kita semua berkerja secara bersama-sama, bersatu padu membangun dan memajukan Papua ke arah yang lebih Baik lagi.

Salam damai..

Penulis adalah Pemerahati dan Peduli Kehidupan Generasi Muda OAP.

Berikan Komentar Anda
Share Button