Beranda News Ini alasan agama katolik tidak terlibat dalam MRP Papua Tengah Periode Pertama

Ini alasan agama katolik tidak terlibat dalam MRP Papua Tengah Periode Pertama

1302
0
Ketua Komisi Kerawam Dekenat Teluk Cendrawasih, Marselus Gobai, SH (baju biru) beserta anggota Komisi Kerawam, Bartolomeus Mirip, Administrator Keuskupan Timika, Pastor Marthen Kuayo Pr , Saul Paulo Wanimbo dari SKP didampingi anggota Rudolf Kambayong saat Konfrensi Pers. (Foto: Istimewa)

TIMIKA – Administrator Keuskupan Timika, Pastor Marthen Kuayo Pr, menegaskan, Gereja Katolik Keuskupan Timika menarik diri dari keikutsertaan dalam MRP periode pertama karena tidak mau turut serta meletakan fondasi yang tidak benar pada provinsi baru di Papua Tengah. Pernyataan tersebut disampaikan pastor Administrator dalam Konferensi Pers, Senin [25/09/2023] Bertempat di Kantor Keuskupan Timika, Kabupaten Mimika , Provinsi Papua Tengah.

Pastor Administrator Keuskupan Timika telah mengungkapkan empat poin alasan mengapa Agama Katolik menarik diri dan tidak terlibat dalam Pokja Agama MRP Papua Tengah yakni :

1. Pertama berkaitan dengan proses seleksi MRP Papua Tengah yang tidak benar, Agama Katotik Keuskupan Timika telah menyampaikan keberatan, melalui Nota Keberatan yang dikirim kepada PJ Gubenur Papua Tengah tanggal 4 Mei 2023.

2. Kedua, karena Nota Keberatan tersebut tidak diperhatikan oleh Pemerintah Provinsi Papua Tengah maupun Pansel MRP Provinsi Papua Tengah, maka Agama Katolik Keuskupan Timika, melalui Pastor Yuvensius Tekege,Pr yang dimandatkan untuk mengawal proses penjaringan calon anggota MRP pokja Agama Katolik menyampaikan surat pembekuan rekomendasi dari pimpinan Agama Katolik untuk semua kandidat utusan agam katolik.

3. Ketiga, atas dasar inilah, pada tanggal 25 Juli 2023, pada waktu pertemuan dengan Pemerintah Provinsi Papua Tengah dan Pansel MRP Papua Tengah di Kantor Keuskupan Timika, pimpinan Agama Katolik Keuskupan Timika, menegaskan lagi pembekuan rekomendasi dan menolak untuk ikut serta dalam keanggotaan MRP pada periode pertama, karena tidak mau turut serta meletakan fondasi, dasar yang tidak benar pada Provinsi Baru di Papua Tengah.

4. Keempat, kalau ada siapapun yang mengatasnamakan Agama Katolik dan berusaha mengaktifkan rekomendasi Agama Katolik Keuskupan Timika, maka pimpinan Keuskupan Timika menegaskan bahwa orang tersebut, tidak mewakili Agama Katolik Keuskupan Timika pada Pokja Agama.

Pastor Administrator menilai, MRP adalah lembaga kultural namun akhir-akhir ini dijadikan sebagai lembaga politik. Orang berebut kursi MRP baik dengan cara yang wajar maupun tidak wajar.

Mewakili Agama Katolik, Kuayo mengemukakan bahwa  lembaga agama sebagai pelindung dan penjaga nilai-nilai moral direduksi fungsinya menjadi sarana untuk merebut kekuasaan. Dirinya menilai  Moralitas manusia tidak bisa lagi dikontrol oleh agama, karena fungsi ini diboncengi kepentingan politik.

“Maka kami menilai, MRP Pokja Agama tidak cocok lagi, kalau perlu pemerintah ganti dengan Pokja Pemuda. Karena agama tidak bisa diklaim oleh suku tertentu dan kelompok tertentu, agama mesti berada di atas semua kepentingan,” kata Pastor Administrator.

Sementara itu, Kesempatan sama, Saul Paulo Wanimbo dari Keadilan dan Perdamaian (SKP) Keuskupan Timika didampingi oleh anggotanya Rudolf Kambayong menjelaskan dalam tradisi agama dan gereja katolik, dikenal istilah Administrator Diosesan yang adalah seorang ordinaries wilayah tertentu dalam Gereja Katolik Roma.

Lebih lanjut Saul menerangkan bahwa dalam tugas keseharian, seorang Administrator Diosesan bertugas sebagai pimpinan suatu wilayah gereja lokal (keuskupan). Dalam Kitab Hukum Kanonik juga dijelaskan, bahwa Dewan Konsultores suatu wilayah gerejawi harus memilih seorang administrator dalam tempo 8 (delapan) hari setelah tahta uskup mengalami kekosongan. Dewan ini perlu memilih seorang administrator yang merupakan seorang imam atau uskup yang berusia minimal 35 tahun (Kan. 421 $ 1 dan Kan. 425 $ 1)

” Demikian juga dengan seorang Administrator Diosesan. Segala hal yang diputuskan olehnya bersifat mengikat secara kanonik,”terang Saul saat konfrensi Pers itu