KNPI Terpecah Belah, Ketum Partai Rakyat Singgung Menpora Hanya Diam

Ketua Umum Partai Rakyat Arvindo Noviar (Foto:Istimewa)

JAKARTA – Ketua Umum Partai Rakyat, Arvindo Noviar ikut menanggapi permasalahan di KNPI. Ia menilai Menpora hanya bergeming menyikapi para pemuda KNPI yang terus-menerus berbenturan tiada henti sehingga para pemuda KNPI menjadi terpecah belah tidak keruan. Sehingga perpecahan tersebut jika diteruskan akan berdampak kepada label “pemuda”.

“Dahulu pemuda dijadikan ikon pejuang progresif-revolusioner, kini mengalami dekadensi dan peyorasi ke level yang paling memuakan,” ujar Arvindo di Jakarta, Senin (22/3/2022) siaran persnya.

Bacaan Lainnya

Arvindo menilai, Menpora hanya jumud dan tetap mampu tampil mesam-mesem kendati para pemuda KNPI saling bertengkar memperebutkan jabatan dan kehormatan yang sesungguhnya semu belaka. Mereka lupa bahwa batang lidi yang bercerai-berai tentulah rapuh, kecuali batang lidi-lidi itu bersatu dalam ikatan yang kuat.

“Tak mampukah Menpora memberi penjelasan kepada para pemuda keblinger itu bahwa 100 tahun yang lalu Tan Malaka, Sukarno, Hatta, Syahrir dkk sibuk menyulam persatuan dan memantik api perjuangan para pemuda sehingga berkumpullah para pemuda itu, lalu mereka saling mengikat jiwa dan raganya melalui ikrar sumpah pemuda, dan sejak itu pula Bangsa Indonesia lahir. Ya, pemuda yang melahirkan Bangsa Indonesia!,” paparnya.

“Sungguh, saya tidak mau mencurigai Menpora lebih jauh daripada hanya sekadar jumud belaka, karena jika ternyata ada motif yang lain-lain selain jumud, maka akan hancur-leburlah Indonesia di masa depan. Karena masa depan Indonesia ada di tangan pemuda, selama-lamanya di tangan pemuda,” tambahnya.

Arvindo mengaku mafhum, bahwa bukan hanya para pemuda KNPI yang berhak menyandang label pemuda di bumi Indonesia. Karena hari ini, pemuda-pemudi di seluruh Indonesia, sebagian tanpa organisasi, sebagian yang lain mengorganisir diri di dalam organisasi tanpa bentuk, dan sebagian yang lainnya lagi ada di dalam organisasi-organisasi yang tidak berkelindan dengan KNPI, sedang menggeliat, sedang menyusun niat, sedang menyulut api perjuangan.

‘Hanya, sayangnya, wajah pemuda yang tergambar di ruang publik diwakili oleh para pemuda KNPI, yang saling bertukar lebam pada wajahnya. Apa akal?,” tandasnya.

Arvindo menegaskan, Menpora cukup gemilang mengelola olahraga, tapi tidak untuk pemuda. Oleh karena itu, ia sebagai pemuda mencabut huruf P dari kata Menpora menjadi Men-ora. Dan jika Men-ora tidak berusaha sekeras-kerasnya untuk mengembalikan huruf P pada nomenklatur akronim dari Menteri Pemuda dan Olahraga, maka sesungguhnya bonus demografi yang selalu menjadi buaian para intelektual dalam seminar-seminar kepemudaan berpotensi menjadi semacam takhayul di masa depan.

“Men-ora, men opo ora? Pemuda yang satu ini bersungguh-sungguh berharap padamu,” tandasnya.

Berikan Komentar Anda

Pos terkait