KURANGI ‘PHUBBING’ HARGAI SESAMA DI SEKITAR!

Felix Degei,S.Pd,M.Ed.  (Foto:Dok pribadi)

Oleh Felix Degei, S. Pd., M. Ed

 

Bacaan Lainnya

Pendahuluan

Saat saya berpetualang selama dua tahun studi pascasarjana di Negeri Kangguru Australia (2017-2018) ada banyak fenomena yang unik yang telah diamati disana. Dua kebiasaan yang sungguh sangat berbeda dengan kita Orang Indonesia, antara lain: _Pertama;_ Orang Australia selalu membaca buku saat waktu luang _(leisure/spare time)._ _Kedua;_ Orang Australia selalu berbagi cerita saat waktu bersama keluarga atau kerabat karena dirasa kesempatan berharga _(quality time)_ terlebih saat makan bersama. Meski bagi kita Orang Indonesia saat makan adalah waktu semua orang tenang karena menghargai makanan. Kedua hal tersebut dirasa sangat berbeda dengan kita di Indonesia. Entah saat waktu luang sendirian maupun bersama sesama di sekitar sebagian besar dari kita selalu menaruh fokus perhatian pada _handphone_ (hp) yang kita bawa di genggaman tangan _(gadget)_ . Seakan kita tidak peduli dengan apa saja yang sedang terjadi di sekitar. Oleh sebab itu, pada kesempatan ini sebagai catatan akhir tahun 2021, saya hendak membahas fenomena yang terjadi pada kita yang seakan mati rasa dengan kondisi di sekitar kita yakni fokus pada _handphone_ . Akhir-akhir ini oleh para teknolog dunia menyimpulkan kebiasaan tersebut dengan sebutan *’ _Phubbing_ ‘*. Lalu orang awam tentu akan bertanya: 1). Apa itu _’Phubbing’_ ?; 2). Kapan istilah _’Phubbing’_ mulai dibahas secara mendunia?; dan 3). Bagaimana dampak ‘Phubbing’ terhadap keseharian hidup manusia saat ini? Ketiga hal ini akan dibahas secara detail pada tulisan singkat ini.

Pertama: Apa Itu _’Phubbing’_ ?

‘Phubbing’ adalah sebuah tindakan seseorang yang sibuk sendiri dengan gadget di tangannya. Sehingga yang bersangkutan tidak memberikan perhatian lagi kepada orang atau apapun yang berada di dekatnya.

Secara etimologi istilah *_’Phubbing’_* adalah singkatan dari _’Phone’_ yang berarti telepon dan _’Snubbing’_ yang berarti tak peduli. Istilah tersebut pertama kali diciptakan oleh Alex Haigh berkebangsaan Australia. Dalam penelitiannya ia menemukan fakta bahwa karena gadget orang mengabaikan sesama dalam masyarakat dan keluarga saat bertemu. Secara praktis istilah tersebut dipahami dengan aktivitas orang sibuk main hp sebagai sikap anti sosial.

Kedua: Kapan Istilah _’Phubbing’_ Mulai Dibahas secara Mendunia?

Istilah *_Phubbing_* secara mendunia mulai dibahas dan dimasukkan sebagai salah satu kosa kata baru dalam Bahasa Inggris saat pertemuan para ahli bahasa, sosiolog dan budayawan berkumpul di Universitas Sydney pada Mei 2012. Kini kata tersebut secara resmi sudah dimasukkan Kamus Bahasa Inggris di berbagai negara. Namun sampai saat ini Bahasa Indonesia belum memilliki kata serapan dari kata tersebut. Padahal kita sendiri sering berbuat _’phubbing’_ misalnya saat berbicara dengan orang tua dan guru sekalipun.

Ketiga: Bagaimana Dampak _’Phubbing’_ terhadap Keseharian Hidup Manusia Saat Ini?

Dampak _’phubbing’_ terlihat dalam berbagai aspek kehidupan manusia. Sungguh aneh tapi nyata bahwa ia kita lakukan tidak hanya saat masa pandemik yang mewajibkan semua urusan via dalam jaringan internet (daring) tapi juga saat urusan bertatap muka luar jaringan internet (luring).

Misalnya sebagai orang tua saat menemani anak mengerjakan tugas sekolah, hampir setiap detik dan menit selalu melirik layar hp apakah ada notifikasi baru yang masuk. Siswa di sekolah juga, seringkali perhatian terbagi ke guru dan hp bahkan lebih banyak perhatian pada hp. Sering ada umat atau jemaat dalam Gereja juga yang sesekali intip layar hp saat pastor atau pendeta berkhotbah di atas altar suci. Lebih parah lagi sering orang sibuk ambil gambar (selpy) dari pada menolong orang yang sedang membutuhkan bantuan seketika misalya saat jatuh tabrakan dan lain sebagainya. Juga saat makan bersama keluarga atau tidur, hp adalah barang yang paling sering diletakkan di dekat dari pada barang lainnya. Hingga tidak sedikit kasus hp terendam di air akibat salah suai dan gagal fokus antara hp dengan aktivitas yang sedang dikerjakan dan masih banyak kasus lainnya. Dan bahkan kini kita jarang jumpai orang jalan dengan membawa buku di tangan untuk membaca.

Hingga kini kita jarang kita jumpai orang dengan hobi membaca buku alias kutu buku. Justru kita jumpai banyak orang dengan hp digenggaman tangannya alias ‘phubber sejati’.

Sadar atau tidak sesungguhnya kita semua adalah penghuni penjara hp sejati karena kita terkurung perhatian pada hp _(cell-phone)_ artinya penjara hp.

Padahal _’no man is as an island’_ yang berarti ‘tak satupun orang yang hidup sebatang kara seperti sebuah pulau di tengah samudra yang nan luas’. Manusia adalah makhluk sosial yang ingin selalu bergaul dengan sesama di sekitar yang oleh Aristoteles disebut ‘ _zoon politicon’._

Oleh sebab itu, diakhir tahun 2021 ini, penulis hendak mengajak kepada kita sekalian untuk *’Mari Kurangi ‘ _Phubbing_ ‘ dan Menghargai Sesama di Sekitar’.* Karena persaudaraan sejati akan terjalin kuat, kokoh dan nyata dalam keseharian hidup ketika kita berbagi rasa dengan tidak fokus pada hp. Ajakan ini senada dengan Tema Natal 2021 yang telah ditetapkan oleh Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) melalui Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) pusat yakni:

Cinta Kasih Kristus yang Menggerakkan Persaudaraan”

SELAMAT NATAL 25 DESEMBER 2021 & MENYONGSONG TAHUN BARU 01 JANUARI 2022.

Penulis adalah pegiat pendidikan khusus orang asli (Indigenous education) tinggal di Nabire Provinsi Papua.

Berikan Komentar Anda

Pos terkait