Balik Atas
Lagu Tanah Papua Sumbangan dari Wilayah Adat Meepago
 
Pewarta: Redaksi Edisi 18/05/2017
| 1443 Views

Nabire, Pencipta lagu Tanah Papua, Yance Rumbino menegaskan, lagu yang kini sedang bergema di seantero tanah Papua ini diinspirasi dari wilayah adat Meepago. “Walaupunn saya orang Biak, tapi lagu ini inspirasi dan sumbangan dari Meepago,” kata Yance Rumbino, Kamis, (18/05/2017).

“Saya ciptakan lagi ini bulan November 1985 di bukit Gamei, distrik Topo, Nabire. Sesaat saya berumur 22 tahun 1 bulan saya ditempatkan sebagai seorang guru SD di Sinak, Puncak Jaya (dulu Paniai). Selama tiga tahun saya tinggal di sana saya tidak mengenal nasi, uangpun tidak.

Saya hanya makan minum bersama masyarakat Sinak dengan air yang mengalir dari gunung sehingga inspirasi sayapun berkembang bahwa Tuhan memberikan tanah ini kaya tapi tidak mungkin Tuhan memberikan orangnya berkekurangan,” tutur Lelaki  kelahiran Sorong, 22 Juni 1953  itu.

Menurutnya, syair lagu yang dulunya dianggap tak mungkin, kini sudah terbukti. Tapi, karya ciptanya pernah tak dihargai, bahkan diklaim diciptakan orang lain. Ia terus berjuang mempertahankan hak ciptanya’.

Dijelaskan, dalam lirikan lagunya itu salah dinyanyikan oleh Trio Ambisi sehingga terpengaruh kepada publik di Papua ini.

“Bukan syo ya Tuhan tapi oh ya Tahun, karena ini adalah suatu ucapan syukur kepada sang pencipta. Dan bukan kau ku puja tapi yang ku puja, karena ini mensyukuri apa yang Tuhan berikan kepada kita yang ada di atas tanah Papua ini,” jelas Yance.

Menurutnya, lagu itu diciptakan guna mengajak orang Papua harus bekerja di atas tanahnya sendiri agar menjadi tuan di atas negerinya sendiri. “Bukan menjadi penonton di atas negerinya. Karena Tuhan tidak keliru memberikan semuanya ini kepada orang Papua,” imbuhnya.

“Perjalanan di tengah belantara pegunungan, pesisir, lembah dan ngarai adalah bagian dari seni kehidupan. Bagi saya, alam adalah sumber inspirasi dalam setiap karyanya,” bebernya.

Ia mengakui, hutan yang adalah paru-paru dunia kini terancam habis. Gunung yang mengandung emas dikeruk hingga tak bersisa. Jika demikian bagaimana kelak nasib gunung, hutan, dan air sungai yang jernih itu. Hanya nyanyian  kosong.

Ditambahkan, meski belum ada pengakuan terhadap karya ciptanya, Yance Rumbino merasa puas karena lagu yang dirilis berdasarkan renungan panjang atas realita Tanah Papua itu kini dijadikan sebagai lagu persatuan Papua. Bahkan dalam menyanyikannya pun, seperti misalnya saat acara-acara penting, lagu tersebut dinyanyikan penuh khidmat dengan posisi berdiri dan tangan diletakan di dada.

Yamoye’AB /zonadinamika.com

Berikan Komentar Anda
Link Banner Link Banner