Balik Atas
Orang Papua Pertama,Di Baptis Dalam Ajaran Katolik Adalah Orang Torea
 
Pewarta: Redaksi Edisi 10/11/2019
| 513 Views
Arak-Arakan Salib Yesus di Torea (Foto:Dok.Radio HMS)

Penulis; Piter Letsoin

                Yosef Ronaldo Letsoin

Torea merupakan 1 dari 142 kampung yang terletak di kabupaten Fakfak provinsi Papua Barat, kampung torea juga masuk dalam wilayah adminstrasi Distrik Pariwari. Dari data yang yang berhasil di dapatkan dari RPJM kampung torea 2016-2021 jumlah penduduk kampung Torea sebayak 800 jiwa dari jumlah kk sebanyak 235, secara mayoritas masyarakat kampung Torea memeluk Agama Katolik. Sebanyak 755 jiwa di kampung Torea memeluk agama Katolik , Islam 32 umat dan Kristen Protestan sebanyak 13 jemaat.

Menurut kondisi Geografi kampung Torea berada di bagian Barat kabupaten Fakfak dengan jarak tempu sekitar 7,5 Km dari pusat kota Fakfak yang di capai melalui Darat dan Laut. Luas wilayah Kampung Torea sebesar 950 Ha dengan struktur kemiringan lahan 25-40 persen, 109 Ha perbukitan dan kampung ini sendiri berada di atas ketinggian permukaan Laut 500 Mdpl. Kampung Torea juga berbatasan langsung dengan wilayah-wilayah tetangan, di antaranya sebelah Utara kampung terletak kelurahan Dulanpokpok, bagian Selatan lautan Pulau Panjang, bagian Timur kampung Sekban serta di Barat terletak kampung Sekru.

Kampung Torea sendiri menjadi kampung yang sangat-sangat bersejarah bagi Umat Katolik di Papua. Mengapa kampung Torea di katakana kampung bersejarah bagi umat Katolik di bumi cendrawasi?marih kita lihat bersama bahwa ada satu hal penting yang belum di ketahui dengan jelas oleh umat Katolik di tanah Papua, yaitu orang Papua yang pertama kali di baptis untuk menjadi umat katolik oleh Pastor Le cocq di kampung sekru kabupaten Fakfak adalah mereka orang-orang yang berasal dari kampung torea. Jadi boleh di katakana orang di kampung torea menjadi orang katolik pertama di bagian barat pulau berbentuk burung (Tanah Papua).

Gereja katolik bias di artikan orang banyak adalah gedung bahkan ada juga yang mengatakan orang-orang yang percaya akan Yesus Kristus, sebagai Tuhan dan Penyelamatan. Dalam arti ke dua ini meliputi orang-orang yang percaya akan Yesus Kristus yang di percayai, seperti nyata dalam sabda Yesus sendiri:” dimana dua atau tiga orang berkumpul atas nama-Ku, di situ aku ada di tengah-tengah mereka.’’ (Mat 18:20) gereja menjadi lengkap karena terdapat anggota yaitu jemaat dan Yesus Kristus sendiri sebagai kepala tubuh-Nya(kol 1:18)

Gereja katolik dalam dua arti tersebut, benih-benihnya telah di taburkan, tumbuh dan berkembang di bumi Papua lewat kota pala Fakfak. Menurut catatan Prefektur Aspotolik Batavia, Kedatangan Pastor Cornelis Le Cocq d’Armanville, SJ di Pantai Kapaur Fakfak (kampung Sekru) sebelah Barat kampung Torea adalah menjadi awal agama Katolik di kabupaten Fakfak serta terlebih khusus di bumi Papua ( Missie Di Nieuw Guinea)..

Pada tanggal 22 Mei 1894 Misionaris Serikat Jesus (SJ), Pater Le Cocq tiba di kampung Sekru, kemudian Pater di sambut oleh warga kampung yang bernama Dunari Samai dan Umar Halantan Serkanasa yang telah memeluk agama Islam. Pada masa itu orang di kampung Sekru sudah memeluk agama Islam lantaran kampung ini di pengaruhnya orang pendatang dari Tidore dan Ternate serta pedagang-pedagang Arab yang mencari rempah-rempah, Kampung Sekru juga menjadi gudang pala dan pintu masuk para pedagang. Walaupun sudah memeluk Agama Islam mereka menerima Pater dengan baik bahkan disanalah pater di berikan tumpangan menginap di rumah Dunaris Samai.

Pada saat Pater di rumah Dunaris Samai, Dialah yang mengatakan kepada Pater Cornelis Le Cocq d’Armanville, SJ bahwa di sebelah timur kampung sekru ( kampung torea saat ini), ada saudara-saudaraNya yang masih belum memiliki kepercayaan (kafir), dari informasi yang di berikan kepada pastor, pastor berhasil melalukan tugasnya menyelamatkan anak-anak Tuhan. Kurang lebih 10 hari lamanya Pater berada di sekitaran kapaur, Pater berhasil membaptis 73 orang anak.

Dari 73 orang 4 di antara mereka yang di baptis adalah, Kodia Homba-Homba setelah di baptis menjadi Markus Homba-Homba, Moses Sembilan Homba-Homba, Agustinus Turimondop dan Ngah Nga Made (Herman).

Setelah 10 hari Pater di Fakfak, pada Bulan Juni 1894 beliau kembali berlayar menggunjungi Bomfia di Seram, Kasewui dan akirnya di Langgur (kei). Saat pater Le Cocq pergi meningalkan kampung sekru menjelankan misi perutusaannya, mereka umat Katolik yang baru saja di baptis oleh Pater, tinggal dan mempertahankan ajaran yang mereka terima, bahkan ada dari mereka yang berpindah ajaran (Agama). Hal ini di sebabkan karena tidak ada imam untuk melayani mereka.

Berkembanya umat katolik di Torea, seperti dikutip dari catatan sejarah Agama katolik di Stasi Santo Petru Torea yang di tulis oleh mantan ketua dewan stasi Jimmy Piter Irenius Simon Letsoin, yang juga merupakan sekertaris kampung Torea saat ini, dalam catatannya bahwa Tahun 1938 orang katolik mulai berpinda dari tempat tinggal pertama ke tempat tinggal ke 2 ‘’Dulan Paha” dekat ‘’Air Hibru” sampai dengan tahun 1946. Pada tahun 1947 mereka menetap di ‘’War Prihe” yang sekarang menjadi i kampung Torea, sebelum mereka berpindah tempat tinggal tempat tinggal orang katolik pertama kali adalah ‘’Temare Huhur’’ (Mondokendik).

Menurut catatan dan hasil penelitian Piter Letsoin kepada orang-orang tua kampung Torea dan kampung Sekru, Ia menjelaskan bahwa tepat pada tahun 1974 dibawah pimpinan Laurens sius homba-homba dan juga di bawah bimbingan pater Philipus Morse memilih dua orang tua agama, yaitu Pius Homba-Homba (kampung Torea) dan Victor Ginuni (kampung Dulapokpok). Disinilsh orang-orang katolik dari Generasi Ke Generasi mulai berkembang sampai saat ini. Mulainya berkembang pada saat itu, dilihat dari mereka melakukan ibadah secara kekeluargaan di sertai denga mereka mendirikan tempat ibadah di depan SD YPPK Torea sekarang ini.

Dengan lajurnya perkembangan umat Katolik di kawasan ini, dengan sendirinya semangat dan inisiatif mereka untuk membangun sebuah gedung Gereja yang baik, maka pada tahun 1976 di bawah kordinator seorang pensiunan guru Bapak Petrus Hindom mebentu panitia pembangunan gedung Gereja dengan di susunlah panitia pembangunan di antaranya; ketua Lourensius Homba Homba, sekertaris Andrianus Homba Homba dan bendaharaWilhelmus Anggiluli. Tepat pada bulan april 1978 peletakan batu pertama di mulai oleh umat di bawah bimbingan Pater Nesyen, OSA.

Seiring waktu berjalan pada tahun 1984 panitia pertama di bubarkan dan di bentuk panitia kedua yang di komandaioleh Pater Pit Tep, OSA dan juga umat yang membentuk panitia antara lain; ketua Patrisius Homba Homba, Sekertaris nton Kilmas, Bendahara Thomas Lefteuw. Berkat semangat umat pada tanggal 6 April 1986, Uskup KMS Mgr. Petrus Vaan Dieepen OSA memberkati dan meresmikan dan di beri nama Gereja Katolik Santo Petrus Torea. Di wilayah Stasi Santo Petrus Torea berdirilah sebuah Biara Susteran Tarekat Maria Mediatrix dan SD YPPK Torea.

Sejarah singkat ini di tulis untuk memberikan informasi kepada umat katolik di papua. melalui motivasi bapa Wihelminus Puang guru agama Katolik Kolese Penidikan Guru (KPG) dan juga Pembimbing TOR di Nabire yang sudah menberikan ilmu sejara agama katolik di papua, walaupun tidak ada di dalam kerukulum nasionall membuat saya menulis walaupun singat yang penting kita bias pahami sedik.

Sumber /2010; Buku napaktilas 115th Baptisan pertama

Catatan penelitian piter letsoin saat menjadi dewan stasi

Ucapan terima kasih di berikan kepada;

Yth Keuskupan manokwari-sorong

yth Tokoh Adat, Agama, pemuda, perempuan dan yang tidak sebutkan.

Berikan Komentar Anda