BALIK ATAS
Pemilu dan ODHA
PENERBIT:PPWI MEDIA Redaksi PAPUALIVES.COM 14th Februari 2019
| 163 DIBACA

Logo KPU dan KPA

Oleh Armandho Rumpaidus

Indonesia akan melaksanakan pesta demokrasi pada tahun 2019 untuk memilih kepala negara dan wakil rakyat baik di tingkat Pusat, provinsi maupun kabupaten dan kota. Pesta demokrasi ini memakai dana yang bisa dibilang “luar biasa” hingga tentu saja para calon-calon pejabat bangsa tersebut akan berebut untuk memikat hati rakyat.Papua juga akan turut ambil bagian dalam pesta demokrasi 5 tahunan tersebut. Baliho-baliho calon anggota legislatif sudah mulai bertebaran di pinggir jalan perkotaan maupun perkampungan. Bahkan kendaraan dan kalender 2019 tidak luput dari poster wajah mereka.

Euforia kampanye akan sangat menggelora di seantero republik ini bahkan ke Papua yang terdiri dari 29 kabupaten/kota, jurus- jurus rayuan pun akan dilakukan untuk menjadi penguasa 5 tahun di bangsa ini. Ada wajah lama ada pula wajah baru yang tampak, namun semua itu ada di tangan rakyat sang pemilik suara di tempat pemungutan suara (TPS) nantinya.

Menjelang akhir tahun 2018, Dinas kesehatan Provinsi Papua merilis jumlah pengidap HIV/AIDS di Papua per 30 september 2018 sebesar 38.874 dengan menempatkan 5 peringkat teratas yakni Kabupaten Nabire (7420), kota Jayapura (6189), kabupaten Jayawijaya (5964), kabupaten Mimika (5670) dan kabupaten Jayapura (2918). Dari jumlah total angka tersebut 78% berusia diatas 17 tahun, ini berarti mereka akan memiliki hak pilih pada pesta demokrasi 2019 nanti.Dari total daftar pemilih tetap (DPT) di Papua ada 3.517.447 dan dari jumlah itu akan ada 30.322 ODHA (Orang dengan HIV AIDS) yang ikut memilih. Jumlah pemilih yang bukan sedikit namun cukup berpengaruh dalam pemilu nanti.

Lantas, apakah sudah ada salah satu dari ribuan calon legislator yang memiliki visi pro kepada mereka? Ataukah mereka (ODHA) hanya dilihat sebelah mata? Tentunya kita berharap ada kebijakan-kebijakan nantinya yang mau atau bisa merangkul mereka agar tidak ada kesenjangan apalagi sampai ada diskriminasi terhadap mereka.
Jangan pula sampai mereka hanya dijadikan komoditas politik nantinya lalu setelah pesta demokrasi usai mereka dilupakan bagaikan habis manis sepah dibuang. Kami butuh pemimpin yang melihat tanpa membeda- bedakan antara satu sama lainnya.

Papua secara khusus dan Indonesia secara umumnya tentu memiliki banyak pekerjaan rumah yang harus dilakukan atau dikerjakan para wakil rakyat maupun lembaga eksekutif nantinya namun jangan sampai melupakan hak warga negara khususnya ODHA. Karena sejatinya yang dijauhi penyakitnya bukan orangnya. Negara atau pemerintah harus menyediakan atau menfasilitasi ODHA untuk beraktivitas layaknya masyarakat umum. Mereka juga mampu berprestasi tinggi baik di dalam maupun diluar negeri, jangan melihat mereka dengan sebalah mata tapi dengan mata hati. Ajang Homeles World Cup Meksiko 2018 timnas Indonesia meraih posisi 9 dari 47 negara yang berpartisipasi, bukankah ini suatu kebanggaan ada warga negara yang membawa harus nama Indonesia diluar sana.

Sekali lagi, ODHA adalah warga negara yang memiliki hak pilih pada setiap pesta demokrasi sehingga pejabat negara wajib membuat kebijakan dan program yang berpihak kepada mereka. Negara kita menganut asas demokrasi bukan negara otoriter ataupun kerajaan sehingga semua warga negara harus diperlalukan seadil-adilnya keadilan di negeri ini, pesta demokrasi pemilihan umum akan berisi banyak cerita dan kisah.

Selamat datang tahun politik 2019 di negeriku tercinta Indonesia dan provinsi kebanggaanku Papua semoga bisa menjadi berkat bagi banyak orang serta semua golongan karena sejatinya kita memakai asas DARI RAKYAT, OLEH RAKYAT, DAN UNTUK RAKYAT!!

Penulis Adalah Koresponden media papualives.com di Jayapura

Berikan Komentar Anda