Pemuda Katolik Komcab Tambrauw Kecam Keras Penembakan Terhadap Pewarta Katolik di Intan Jaya

Izak Bofra Pengurus Pemuda Katolik Komcab Tambrauw (Foto: Dok Pribadinya)

TAMBRAUW – Aksi penembakan brutal terhadap Rufinus Tigau, seorang katakis gereja Katolik Stasi Jalae, Paroki Bilogai, Dekenat Moni-Puncak, Keuskupan Timika, pada Senin (26/10/2020) tersebut mendapat tanggapan dari Pengurus Pemuda Katolik Komisariat Cabang (Komcab) Tambrauw  Papua Barat  dengan mengecam keras tindakan tersebut.

Izak Bofra Pengurus Pemuda Katolik Komisariat Cabang (Komcab) Tambrauw mengatakan  Presiden harus bertangung jawab terhadap Proses Dehumanisasi terhadap bangsa Papua karena tidak ada penghargaan bagi Hak hidup manusia Papua dan masa depan orang Papua dibumi Cenderawasih ini mengingat peristiwa penembakan yang dilakukan oleh Militer terhadap Rupinus Tigau seorang Katekis (Pewarta) Katolik Stale Jalae, Paroki Sugapa Intan Jaya Keuskupsan Timika, Senin (26/11/2020).

” Ini adalah bukti bahwa Jakarta tidak menginginkan manusianya hanya menginginkan sumber daya alamnya saja dimana tidak ada niat yang baik untuk Melindungi, menjamin dan menghormati martabat manusia Papua. Oleh sebab itu Izak Bofra dengan tegas mengecam tindakan penembakan yang mengakibatkan jatuhnya korban rakyat sipil ini adalah pelangaran Ham karena mengunakan alat kelengkapan Negara untuk menghabisi rakyat yang tidak bersalah ini adalah tindakan yang biadab dan tidak berprikemanusian karena menyamakan nyawa manusia seperti hewan.” kata Bofra dalam rilispers (26/11/2020) kepada media ini.

Pemuda Katolik Komcab Tambrauw juga mengharapkan kepada lima keuskupan di tanah Papua untuk berani menyuarakan kekerasan yang terus menerus terjadi di tanah Papua karena masa depan umat Allah sedang di tindas dan dibunuh kalau Gereja tidak bersuara maka Gereja ikut membiarkan proses Genosida terhadap bangsa Papua dan juga mendesak Komnas Ham serta Lembaga kemanusian untuk turun lapangan melakukan Investigasi.

” Mendesak Panglima TNI untuk segera mencopot Pandam Cenderawasih karena bertangung jawab atas insiden penembakan tersebut agar ke depan peristiwa tersebut tidak terulang dikemudian hari.” jelasnya.

Bofra menambahkan , Papua bukan tempat latihan perang sehingga selalu harus ada korban yang ditembak oleh aparat Negara atau Militer karena beberapa waktu sebelumnya seorang pendeta juga menjadi korban, sudah keterlaluan dan sangat tidak manusiawi.

“Karena sudah kelewatan batas dimana pembunuhan demi pembunuhan terus terjadi masih adakah harapan bagi masa depan eksistensi orang asli papua kalau masih bersama Indonesia saya pikir tidak.”pungkasnya.

Berikan Komentar Anda
Share Button