Tolak Pemekaran 10 Distrik & 109 kampung , Aksi Mahasiswa Deiyai Dibubarkan Polisi

Ketika Polisi sedang membubarkan Mahasiswa Deiyai beserta Amos Edowai salah satu Anggota DPR Papua di depan kantor DPR Papua.

JAYAPURA – Aksi solidaritas Mahasiswa Kabupaten Deiyai mengelar demo damai dalam rangka menolak wacana pemekaran 10 distrik, dan 109 kampung di kabupaten Deiyai yang  direncanakan Pemda bersama DPRD Deiyai dibubarkan Polisi setelah lima menit sesudah salah satu anggota DPR Papua menerima aspirasinya depan Kantor DPRP di Jayapura, Senin, (16/11/2020) siang kemarin.

Pantauan media ini, Aksi demo damai ini sudah yang dimulai dari 09:20-an di kantor DPR Papua berlangsung dengan aman dan damai, namun pihak gabungan TNI/POLRI mendatanginya ketika salah seorang anggota DPR Papua tengah menerima aspirasi mahasiswa, tetapi pihak gabungan berupaya membubarkan masa secara paksa setelah lima menit kemudian. Walapun sempat Pihak Kepolisian melakukan negosiasi dengan mahasiswa dalam penerimaan aspirasi oleh anggota DPR Papua, akan tetapi pihaknya tidak menerima mahasiswa menggelar aksi sehingga mengejar mahasiwa sampai Terminal Mesran dekat Pelabuhan Jayapura.

Sesuai informasi nama-nama yang dihimpun media di lokasi kejadian berikut nama-nama yang dipukul Polisi :  1.Abnier Doo 2.Akulian Pakage 3.Maikel Pekei 4.Nason Giyai 5.Abraham Douw 6.Yabet Lukas Degei 7.Nius Dogopia

Dengan membentangkan spanduk berukuran dua meter lebih dengan bertulisakan “Kami Mahasiswa Deiyai Dengan Tegas Tolak 10 Dsitrik dengan 109 Kampung”, di kabupaten Deiyai, Provinsi Papua.

Korlap Aksi Abner Doo dalam orasinya di halaman kantor DPR Papua menyampaikan kami mahasiswa dan masyarakat Deiyai dengan tegas menolak pemekaran 10 distrik, dan 109 kampung di kabupaten Deiyai karena tidak memenuhi syaratnya. Pihaknya menilai rencana Pemda diluar kehendak masyarakat Kabupaten Deiyai dan tidak memenuhi syarat untuk mekarkan sebuah distrik atau kampung.

“Jumlah masyarakat dari 10 distrik yang diwacanakan tidak terbatas. Hal ini membuktikan, syarat pembentukan distrik tidak dijamin,” kata Abner Senin, (16/11/2020) siang itu.

Selain itu, Pihaknya juga menilai dengan adanya pemekaran baru di Kabupaten Deiyai, kemungkinan bisa terjadi mobilisasi sosial secara Surplus sehingga sebelum sejauh sebelum harus menolak. Di kabupaten Deiyai saat ini dilingkupi dengan pelbagai permasalahan yang belum pernah diselesaikan oleh Pemda sehingga kami minta harus selesaikan semua masalah.

” aksi ada beberapa permasalahan yang pelum diselesaikan oleh Pemda Deiyai seperti peluapan Danau Tiggi dan tapal batas. Peluapan Danau Tigi membuat masyarakat setempat tidak bisa beraktivitas dan juga soal tabal batas antara Deiyai-Paniai, Deiyai-Dogiyai, dan Deiyai Timika hingga saat ini dalam masalah besar. Oleh karena itu, kami minta Pemda harus selesaikan semua itu terlebih dulu,” pintanya.

Amos Edowai selaku Anggota DPR Papua ketika menerima aspirasi sebelum dibubarkan Polisi di depan Kantor DPRPapua (Foto:Michael/PapuaLives)

Menganggapi aksi tersebut, anggota komisi I, DPR Papua, Fraksi Bangun Papua, Amos Edowai mengatakan, dirinya sangat bangga karena mahasiswa Deiyai berhasil menyampaiakn aspirasinya ke DPRP Papua hari ini. Kantor DPR adalah rumah aspirasi sehingga anggota kepolisian tidak perlu melarang mahasiswa untuk demo.

“ Mahasiwa tidak menggelar aksi di Karkas Polda atau Pangdam. Sebab mereka datang disini mau menyampaikan aspirasinya ke DPR sebagai wakil mereka jadi jangan larang mereka demo. Kami akan menindaklanjuti aspirasi ini. Pada prinsipnya akan lakukan audies bersama DPRD Deiyai kemudian akan dengarkan hasilnya karena, keputusan pemekaran itu ada di tangan DPRD Kabupaten Deiyai, sesaui dengan aturan main “ jelas Edowai senin, (16/11/2020) siang.

Kader Partai PKB Deiyai  ini juga merasa sangat kecewa, sebab ketika menerima aspirasi mahasiswa Deiyai, ia dibatasi waktu oleh pihak keamanan yang hadir saat aksi. Dirinya menerima aspirasi namun dirinya kesal dibatasi oleh pihak keamanan di depan kantor DPR Papua.

” Ini hal yang sangat aneh. Di sela- sela saya menyampaikan sambutan, saya di bisik bisik oleh pihak keamanan bahwa, bapa punya waktu berbicara hanya lima menit, dan akhirnya saya pun di batasi oleh pihak keamanan. Saya bicara di depan kontor DPR Papua di batasi oleh pihak keamanan, seakan saya di batasi oleh pimpinan parlemen saya. “ tutur Edowai siang kemarin.

Perlu diketahui bersama bahwa Mahasiswa Deiyai se-Jayapura yang mengelar aksi ini juga minta kepada DPRD Deiyai segera membuka ruang dialog (audience) dengan masyarakat terkait wacana tersebut, lantaran rancangan pemekaran distrik tersebut dinilai tidak melibatkan masyarakat setempat namun hanya kepentingan elit politik belaka.

Berikan Komentar Anda