Dewan Gereja Papua (WPCC) Apresiasi kepada Tim “Ebamukai” untuk Veronika Koman

JAYAPURA Demikian Presiden GIDI Pdt. Dorman Wandikbo melalui Siaran Pers pada Senin (21/09/2020) Menjelaskan, selama 75 tahun bangsa Indonesia menunjukkan betapa miskinnya nilai kebenaran, keadilan dan kemanusiaan, sehingga Saudari Veronika Koman melakukan hal yang bagi kami Gereja pribumi di Tanah Papua sangatlah luar biasa.

Dikatakan, Tim Solidaritas Ebamukai untuk Saudari Veronika Koman yang dipimpin DR. Markus Haluk yang dan diwakili oleh eks Tapol Ambrosius Mulait dan Dano Tabuni serta didampingi oleh pengacara HAM, Michael Himan telah bekerja sesuai dengan fungsi dan tujuan mereka yaitu mengembalikan dana beasiswa kepada pihak Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Kementerian Keuangan sebesar Rp 773.870.000, yang berasal dari sumbangan secara sukarela masyarakat Papua.

Dorman menjelaskan, Saudari Veronika Koman telah melakukan apa yang ada didalam Alkitab, yaitu “Berfirmanlah Allah: “Baiklah kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang ada di bumi.” (Kejadian 1 : 26 TB).

Menurutnya, Indonesia telah meratifikasi konvensi internasional tentang penghapusan segala bentuk diskriminasi rasial (1965) melalui Undang-Undang Nomor 29 Tahun 1999. Konvensi itu menjadi pedoman pembentukan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2008 tentang penghapusan diskriminasi ras dan etnis.

Beleid yang diundangkan pada 10 November 2008 itu menyebut segala tindakan diskriminasi ras dan etnis bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila, UUD RI 1945, dan Deklarasi Universal HAM (DUHAM).

Ia menerangkan, Undang-Undang ini menegaskan setiap warga negara sama kedudukannya di dalam hukum dan berhak atas perlindungan terhadap setiap bentuk diskriminasi ras dan etnis.

Namun demikian, terangnya, sudah 12 tahun Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2008 berlaku, tapi pelaksanaannya dinilai belum efektif menjerat pelaku rasisme atau diskriminasi ras dan etnis.

Komnas HAM mencatat sampai saat ini belum ada penegakan hukum terhadap kasus diskriminasi ras dan etnis.

“Apa yang dilakukan Saudari Veronika Koman adalah benar dan adil dalam mendukung penghapusan diskriminasi ras dan etnis terhadap Orang Asli Papua,” tuturnya.

Dikatakan, bagi Orang Asli Papua, saat ini ada “1000 Veronika Koman” yang sedang berada di dalam dan luar negeri dan mereka akan terus berjuang untuk penegakan Kebenaran, Keadilan, dan Kemanusiaan di Tanah Papua. “tegasnya.

Berikan Komentar Anda