Beranda Advertorial Puisi Tentang “HOLANDO CAPLOK PAPUANI”

Puisi Tentang “HOLANDO CAPLOK PAPUANI”

767
0

Puisi kedua :

Hingga tiba waktu, aku harus terbayang tentangmu
Perihal bagaimana kau memasuki duniaku
Mengetuk pintu kalbuku
Kau berhasil dan tenggelamkannya tanpa kabar

Holando…!
Terus terbayang manisnya janjimu
1 Desember 1961 di dermaga Holandia. Pelabuhan Jayapura kini
Kau bersumpah dan pergi ke orang tuamu
Meminta restu tuk datang dan menikahiku

Tapi
Nyatanya
15 Agustus 1962
Waktu yang kamu berjanji akan kembali,
Ternyata bukan kamu yang datang menikahiku
Holando…
Kau telah pergi untuk berkongkalikong dengan yang lain, si Melayu
AS jadi saksi dan bertepuk ria tuk menikahkanku dengan si Melayu.

HOLANDO, MELAYU dan AS
Ternyata kalian semuanya mencaplok aku seorang wanita yang tidak berdaya ini.
Hanya untuk memperkosa dan mau menikmati seluruh tubuhku dan isi yang penuh dengan susu dan madu

Hingga detik ini, tubuhku kalian sedang menikmati
Tak pernah memikirkan tentang nyawaku
Susu dan darahku sudah mulai kering
Nyawaku diujung tanduk
Doa-doa ku kini tak lagi dikabuli Tuhan

Tuhan, apakah Tuhan sedang bekerjasama dengan mereka?
Tuhan, apakah Tuhan hanya membelah mereka sesama ras barat?
seperti di gambar dan sesuai cerita Alkitab keturunan Israel?

Holando…
Tentang janji palsumu, akan ku ingat selamanya
Bagiku tiap 1 Desember adalah hari janji palsumu, dan
Tiap 15 Agustus adalah hari penghianatan
Dimana kau mencaplokku dengan si melayu dihadapan saksi si AS

Si Melayu memang manis senyumnya indah dan berapi-api bak malaikat
Tapi dia menyembunyikan niat busuknya tersusun rapi dalam hatinya
Dalam hati yang memiliki rasa
Yang sempat membuatku harus mengeluarkan air mata dan darah
Karena selain aku pernah melayang tinggi, aku juga sudah jatuh terhempaskan ke bumi.

Ternyata, aku tertipu oleh rasa yang telah terselimuti ego untuk memilikimu, Holando
Bagaimana kau melakukannya?
Apa salahku hingga kau berbuat yang tak pernah ku fikirkan sebelumnya?
Sejahat apakah aku, Holando?

#BANGSAT…!

Numbay, 25 April 2024

Karya: Alfred Fredy Anouw,S.IP
Anggota DPR PAPUA