Balik Atas
Rasisme Titik Hitam Pada Sebuah Batang Pohon Masalah
 
Pewarta: Redaksi Edisi 28/10/2019
| 184 Views
Penulis (Foto:Istimewa)

Ada sebuah pohon yang bernama pohon masalah. Pohon itu tumbuh subur di wilayah bagian barat dari New Guinea atau yang kini dikenal dengan Papua Barat. Biji pohon itu ditemukan di alun-alun bagian utara kota Gudeg, Yogyakarta pada tanggal 19 Desember 1961 oleh seorang tokoh proklamator yang bernama Soekarno.

Kalah itu, biji tersebut adalah biji perpaduan tiga biji yan siap ditanam diwilayah New Guinea barat. Ketiga biji tersebut adalah bubarkan Negara yang terbentuk dengan menghilangkan nama Papua barat kemudian diganti dengan Irian Jaya barat, Menaikkan bendera merah putih dengan menurunkan Bintang Timur (Bintang Kejora) dan Melakukan mobilisasi dengan membawa militer serta penduduk luar pulau Papua Barat dan dibagikan kesemua wilayah Papua barat yang sekarang sering disebut masyarakat Transmigrasi.

Sang penemu menanamkan biji tersebut namun ia kawatir dengan proses pertumbuhannya karena sang penanam berkehendak bahwa ketiga biji itu harus tumbuh menjadi pohon masalah. Maka ia harus mencari pupuk yang tepat untuk memupuki ketiga biji tersebut. Dalam proses pencarian pupuk yang tepat, sang penemu biji atau soekarno dibantu oleh kawan-kawannya menjelajahi samudra pasifik. Mereka menemukan pupuk dan pestisida yang tepat diseberang samudara Pasifik. Pupuk beserta pestisida yang mereka temukan tersebut bernama PT.Freeport Indonesia. Akhirnya pupuk ini dibawah ke Indonesia dan diletakkan diwilayah Papua barat pada tahun 1967.

Pada tahun yang bersamaan dengan peletakkan pupuk, adapun hama yang dibicarakan dinegeri yang tak terkunjung oleh orang asli Papua kalah itu. Hama yang dibicarakan yaitu bernama Persetujuan-Persetujuan seperti Persetujuan Roma dan Persetujuan New York. Dalam upaya pencarian hama, diseberang samudra membentuk nama pemerintah sementara di Papua barat yang dinamakan dengan UNTEA (United Nations TemporaryExecutive Authority) pada pada tanggal 1 Oktober 1962 tetapi hama ini mati dengan pestisida karena lagi tepat pada tanggal 1 Mei 1963 dimana Papua diIntegrasikan kedalam tangan NKRI.

Pencarian hama untuk mematikan ketiga biji diatas dilangsungkan lagi yaitu pada persetuan New York. Salah satu poin yang menjadi hama terkuat yaitu harus dilakukannya Penentuan Pendapat Rakyat (PEPERA) Papua barat dengan satu orang satu suara (one man one vote). Akhirnya Pepera ini dilakukan selama beberapa bulan diPapua melalui perwakilan 1025 orang Papua. Ketika pemilihan ini berlangsung, orang Papua yang dipilih perwakilan ini diawasi ketat oleh tikus putih yang kokoh dan tajam giginya atau disebut hingga kini, Pepera dilakukan tidak sesuai dengan isi pada poin persetujuan New York bahwa satu orang satu suara. Dalam prakteknya diPapua barat hanya dipilih oleh perwakilan pilihan indonesia yang berjumlah 1025 orang dengan todongan senjata. Hal ini meninggalkan luka yang amat pedih kepada perwakilan dari PBB yang datang ke Papua saat itu yaitu Dr.Fernando Ortiz Sans dan beliau melaporkan kepada PBB tentang penyesalannya dalam sidang PBB bulan september 1969. Dengan demikian, pelaksanaan PEPERA yang tak sesuai kesepakatan PBB ini menjadi Akar dari Pohon Masalah.
Rasisme itu terletak pada batang jika masalah Papua itu dikaitkan dengan pohon. Rasisme telah lama dikeluarkan oleh para penguasa bangsa Indonesia. Pernyataan Ali Murtopo yang menyatakan bahwa Indonesia tidak suka orang Papua tetapi Papua direbut dan dimasukkan kedalam negara Indonesia hanya karena kekayaan alam. Pernyataan ini bertanda awal mulainya kebencian hingga mengeluarkan kata-kata rasial seperti yang terjadi belakangan ini di Surabaya pada tanggal 16 Agustus 2019. Para mahasiswa asal Papua diteriaki Monyet.

Rasial sebelumnya terjadi di Malang hingga wakil Wali kota Malang megeluarkan pernyataan hendak memulangkan mahasiswa Papua dari kota Malang tepat tanggal 15 Agustus 2019. Selanjutnya terjadi lagi Disurabaya dengan anggota militer mendatangi Asrama Papua dipagi hari lalu meneriaki dengan kata-kata Rasis seperti Monyet, Anjing. Tidak hanya meneriaki rasial, namun mereka mendobrak pintu Asrama, masuk kedalam Asrama dan membuang gas air mata serta menangkap dan membawa ke Polrestabes Surabaya. Dimana letak salah mahasiswa Papua?
Dilain sisi, dapat bertanya bahwa, apakah peneriakan rasial itu tidak melanggar hukum? apakah mendobrak pintu Asrama itu tidak melanggar hukum? Apakah pembuangan gas air mata kedalam Asrama itu tidak melanggar aturan penggunaan? Apakah penangkapan tanpa bukti itu tidak melanggar hukum? Hapus saja bunyi UUD ’45 Pasal 1 ayat 3 ‘Indonesia adalah negara hukum’ sebab pelaku pelanggaran hukum diatas tidak diproses secara hukum.
Selanjutnya, Rasial dapat dikatakan bahwa hanya sebuah momentum titik hitam disebuah batang pada pohon masalah. Rasial itu adalah pukulan yang mengenai jaringan xilem dan floem yang terdapat pada batang pohon. Rasial diumpamakan dengan jaringan xilem dan floem yang mengangkut zat makanan dari akar ke daun maupun dari daun ke akar pada batang pohon. Jika kedua jaringan ini terkena masalah, entah karena pantulan benda apa saja, efeknya akan lari ke akar maupun ke daun. Daun tak akan hijau maupun berbuah jika akar bermasalah karena zat-zat mineral akan di cari oleh akar. Akar kuat maka pohon tetap kuat.

Selanjutnya, dapat dilihat kepada masalah Papua. Masalah Papua itu identik sebuah pohon yang ditanam oleh soekarno dengan Trikora. Rasial yang terjadi diPulau Jawa hanya satu titik pukulan yang terkena di batang. Masih banyak pukulan keras yang terkena di bagian batang juga seperti kasus Wasior, Mapenduma (Nduga), Wamena, Biak, Abepura, Paniai, Dogiyai, Deiyai, Sorong, Manokwari, fak-fak dan lain sebagainya.
Indonesia merasa memiliki kekayaan alam Papua sehingga hingga kini dilakukan berbagai macam cara hanya untuk mengobati bagian batang yang para penguasa merasa telah terluka. Bentuk pengobatan yang dilakukan adalah pencitraan melalui pembuatan video secara paksa untuk mengikrarkan bahwa Indonesia damai, Pengiriman militer dalam jumlah besar ke Papua, Pembicaraan janji yang didengar enak tanpa bukti melalui televisi, memanggil toko Papua buatan Indonesia, dan lain sebagainya. Sementara luka yang diciptakan ini, sudah menghidupkan akar kemudian akar masalah ini menjadi semakin luas.

Semua usaha yang dilakukan oleh Pemerintah Indonesia hanya sia-sia belaka karena akar masalahnya telah dibahas diatas yaitu PEPERA yang dilakukan dengan penuh manipulasi pada tahun 1969 tersebut telah menjadi sebuah narasi hidup yang menggairahkan semua orang Papua tanpa terkecuali.
Dengan melihat semua Fenomena Pelanggaran HAM Berat yang terjadi di negara Indonesia, lebih kepada Pelanggaran HAM berat terhadap orang Papua, dan bahwa Indonesia telah menjadi Anggota Dewan HAM PBB, maka adapun Solusi tepat yang ditawarkan supaya Indonesia bisa hidup tenang dan sejahtera serta Papua Penuh Damai (PAPEDA) terwujud yaitu Indonesia mengakui pembohongan PEPERA 1969 itu dan melakukan REFERENDUM Obligatory bagi bangsa West Papua karena ini adalah akar masalah. Kemudian, Semua orang Asli Papua yang mencintai Merah Putih, yang ikut Indonesia diharuskan untuk sadar bahwa sejarah itu merupakan narasi yang akan hidup terus sehingga diwajibkan memiliki sikap yang jelas bahwa bangsa Papua benar-benar ada akar masalah yang belum terselesaikan. Jangan terhipnotis dengan ‘sweet candy’ seperti Otonomi Khusus, Pemekaran, Jabatan, dll tetapi klirkanlah akar pohon masalah yang ada sesuai dengan kemauan dari semua Orang Asli Papua.

Catatan, Digoo. Colony land. 25 Oktober 2019.

Berikan Komentar Anda