Balik Atas
Seorang Pengungsi “akhirnya bisa berkumpul bersama keluarga”
 
Pewarta: Hiswita Pangau Edisi 07/10/2019
| 115 Views
Darius Kadang Salah Satu Pengungsi dari Wamena, Papua (Foto:Hiswita/PapuaLives)
Jayapura,Pacsa Kerusuhan di Wamena, Papua beberapa berada di Kota Jayapura, salah seorang yang ikut mengungsi yaitu Darius Kadang (38), menceritakan tentang tragedi Wamena yang di alami bersama keluarga pada, Senin (23/9/2019) lalu.
Awal kejadian kita tidak sangka karena tiba-tiba, pagi saya keluar mau cek pekerjaan, tiba-tiba dari Jalan Irian langsung ada sekelompok orang berpakaian sekolah tetapi rambut gondrong dan jenggot panjang, saya heran, apakah ini anak sekolah? tetapi juga langsung serang kami dengan batu.
Saya mau sembunyi, tetap saya di serang, padahal saya sekaligus ingin menjemput anak saya di sekolah, tetapi saya di kejar terus dengan batu. Anak saya ada dua orang, ada yang SMP dan SMA, jadi saya cari jalan buat jemput, sepanjang jalan saya menangis, saya hanya berusaha mau selamatkan anak saya, saya ke anak yang SMP sudah ada pembakaran di depan, saya tidak bisa masuk, sedangkan anak saya telepon minta tolong, saya bolak balik mencari jalan,dan akhirnya saya selamatkan yang SMP dan duluan antar dia kerumah.
Selanjutnya saat saya jemput anak saya yang SMA, kami panik dan ketakutan lihat orang-orang yang langsung anarkis dan menyerang dengan brutal, saya berdiri lindungi anak saya dan anak tetangga saya yang saya jemput sekalian saat itu, kemudian saya berusaha cari perlindungan, pas kami menuju rumah, kami di lempar batu, pas dia angkat parang mau potong kami dari belakang, saya liat dari spion, saya langsung belok tiba-tiba akhirnya sepatu anak saya yang kena parang, saya ketakutan dan berusaha untuk selamatkan diri bersama anak-anak, sampe anak tetangga saya lompat dari motor karena ketakutan, kami lihat dengan mata kepala, orang di potong dan di tikam, saya tidak lagi balik lihat kanan kiri, hanya fokus cari jalan.
Puji Tuhan ada putra daerah menolong kami saat itu, sehingga kami bisa kembali ke rumah dan langsung kami mengamankan diri, dan memang saat itu semua berubah, kami seolah mimpi buruk.
Istri saya sudah dua hari dua malam disini, saya baru tiba, saya berusaha turun  karena istri saya ketakutan, sampai pingsan di bandara waktu itu. Senang akhirnya kami bisa berkumpul bersama.
Harapan saya, semoga tidak terulang, karena ini bukan manusiawi, masa orang di bakar hidup-hidup, korban makin banyak di temukan, lebih banyak yang di bakar hidup-hidup oleh masa, bahkan tinggal abu. Ada yang di bakar bersamaan rame-rame, jadi kami harap sekali pemerintah segera tangani, supaya cepat selesai dan tidak ada korban lagi. Terima kasih
Berikan Komentar Anda