Balik Atas
Tradisi Menganyam Noken di Mapia Memiliki Motif Bagaikan Anggrek Emas
 
Pewarta: Michael Edowai Edisi 28/06/2019
| 802 Views
Michael Edowai (Foto:Dok.Pribadi)

Saat ini, keunikan dari budaya sebuah tradisi kebiasaan masyarakat dalam hal menganyam Noken tradisional telah diwujudkan dalam karya-karya yang sangat bernilai salah satunya Noken dari Suku Mee di Wilayah Mapia kabupaten Dogiyai,Provinsi Papua.

Kita ketahui bahwa Noken adalah sebuah hasil rajutan tangan berbentuk tas/kantong yang terbuat dari benang maupun dari bahan lokal seperti dari bahan kulit anggrek dan kulit kayu khas dari Papua.

Namun kali ini memang terlihat unik menggunakan bahan dari Anggrek kuning keemasan yang sangat unik dan indah.merupakan motif dari Mapia ini dikenal meluas sebab memiliki harga yang mahal mulai dari 1 juta hingga 10 juta per Noken sesuai dengan kesepakatan penjual dan pembeli dengan berbagai ukuran yang bervariasi dari kecil hingga besar dari merupakan Noken termahal dari berbagai motif yang ada di tanah papua.

Noken yang dibuat untuk dipakai sendiri bahkan noken ini juga digunakan dalam upacara-upacara besar dan juga jual untuk kebutuhan ekonomi masyarakat. Noken anggrek merupakan Noken yang memiliki makna Istimewa sering terlihat bagi orang papua terutama bagi Orang Pegunungan Tengah Papua khsusunya di wilayah adat Meepago.

Namun Noken dari Mapia berbahan dasar anggrek kuning emas ini patut diberikan penghargaan sebab memiliki nilai seni yang sangat indah sehingga perlu dikembangkan budaya anyam komprehensif pada histori masyarakat Mee,menjadi pentig untuk Pemerintah melindungi anggrek yang ada. Karena anggrek sangat langkah dan hampir punah sebab sudah di kenal dari berbagai daerah dari luar negeri maupun dalam negeri.

Untuk itu, kita harus berupaya melestarikan tradisi budaya kita menganyam dan merajut noken, karena budaya kita adalah salah satu jembatan menuju keselamatan bagi kita dalam menjalankan dunia kehidupan Sehingga, setiap orang wajib dimiliki jembatan keselamatan dan menjaga kebudayaan kita yang Allah telah berikan berikan kepada kita secara cuma-cuma karena itu, ialah hak untuk merestarikan dan menjaga kebudayaan kita salah satunya, yakni noken anggrek dan pula tradisi budaya lainnya yang turun temurun dari Moyang kita.

Noken Anggrek Motif dari Mapia di Pakai, Velix Vernando Wanggai Mantan staf khusus Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (Foto:Istimewa)

Noken berbahan dari Anggrek asli ini terlihat kilau memukau dan unik seperti Kuning Emas ,warnanya yang  bercahaya kilau bagaikan Cahaya matahari yang menerangi isi Dunia ini.Sehingga kita perlu memahami jelih bahwa” Bangsa yang besar adalah bangsa yang memegang pada Histori masing-masing di setiap ras suku dan marga itulah seorang yang selalu menemani dengan histori itu sendiri biarpun, dimana berada niscaya akan afeksi kita.”

Orang Papua dengan susah payah dan teliti merajut noken hingga menjadi sebuah Noken yang bernilai.Sudah patutlah memiliki nilai harga yang tinggi dari hasil karyanya.merupakan suatu hal yang wajar sebab karya-karya yang dihasilkan memiliki nilai seni yang diberikan langsung oleh sang pencipta.

Orang papua pada umumnya harus  patuh dengan histori sendiri maka, histori adalah jalan satu-satunya pelestarian produk lokal dalam rangka mengikuti histori.Sudah saatnya kita mengenakan Noken kita sendiri,Minum dari Sumur kita sendiri dan Makan dari Kebun kita sendiri. Semoga Kehidupan Papua Lebih Baik. SALAM

Berikan Komentar Anda