Beranda Birokrasi Peringati hari Bumi, Walhi Papua Menilai Masih Dibayangi Dengan Krisis Perubahan...

Peringati hari Bumi, Walhi Papua Menilai Masih Dibayangi Dengan Krisis Perubahan Iklim Multidimensi

584
0
Ilustrasi

JAYAPURA – Eksekutif Daerah (ED) Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHIl) Papua menyampaikan siaran pers betanjuk “Tanah Papua adalah Rumah Kita!” dalam rangka Peringatan Hari Bumi 2024.  Walhi menilai saat ini masih dibayangi dengan krisis Perubahan Iklim multidimensi, tahun ini kita sedang dalam tahun politk.

Dalam siaran pers itu, Tahun ini merupakan tahun terpanas, meski terjadi fenomena la nina dan el nino. Disisi lain, dampak siklus basah la nina di sepanjang tahun 2 tahun belakangan ini mengakibatkan 763 kejadian lebih bencana (tanah longsor, banjir, gelombang pasang, dan puting beliung) yang membuat lebih dari 3 juta terdampak dan mengungsi. kutip media papualives.com dalam Siaran Pers Hari Bumi 2024, Senin [22/04/2024] siang tadi.

” Pelonggaran kebijakan perlindungan lingkungan demi melayani kepentingan membawa kita semakin rentan terhadap bencana ekologis. Selama sepuluh tahun terakhir Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat peningkatan kejadian bencana ekologis hampir sepuluh kali lipat. Sepanjang tahun 2020, BNPB mencatat 2.925 meningkat di tahun ini kejadian bencana, sebagian besar diantaranya merupakan bencana hidrometeorologis yang bertalian erat dengan krisis iklim.”kutip media [22/04/2024] siaran pers.

Lebih lanjut, Puncak dari kerentanan ekologis itu terlihat dari kejadian bencana di awal tahun 2019 yang terjadi di Kabupaten Jayapura banjir bandang dan air laut naik, dan kemudian disusul dengan terjangan siklon tropis Seroja yang melanda kabupaten Yahukimo, Lani Jaya, Puncak, Nduga, dan di Kabupaten Paniai, kabupaten Nabire, Kabupaten Jayawijaya dan Kabupaten Dogiyai, Kota Sorong, Kota Jayapura, Kabupaten Merauke serta daerah-daerah di Pulau Papua. Banjir besar di Kabupaten Jayapura sentani menjadi alarm tanda bahaya darurat ekologis sebagai konsekuensi perusakan lingkungan Bumi Papua.

Bertepatan dengan Hari Bumi, Eksekutif Daerah Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI PAPUA) bersama Masyarakat Adat Papua dan Gerakan Sipil HAM dan Lingkungan, Sosial budaya, ekonomi menyerukan alam tanda bahaya atas kerusakan lanskap ekologis di Tanah Papua mulai dari kawasan pesisir, pulau kecil, hingga pegunungan.

Maikel Primus Peuki, Direktur Eksekutif Daerah WALHI PAPUA menegaskan bahwa peringatan hari bumi ini penting dijadikan momentum bagi warga untuk menuntut pertanggungjawaban institusi penyelenggara negara khusus Pemerintah se-tanah Papua atas berbagai kerusakan lingkungan hidup dan penderitaan warga yang bertubi-tubi akibat berbagai kebijakan yang telah meningkatkan kerawanan dan memaparkan warga pada berbagai risiko bencana.”

WALHI Papua juga mengajak seluruh elemen rakyat Tokoh Agama, Tokoh Adat, Perempuan, laki-laki, tua muda, di pelosok kampung dan kota di Papua, gotong-royong jaga bumi bisa dimulai dengan menghentikan perusakan alam oleh ekspansi perkebunan monokultur skala besar, perampasan tanah dan hutan Adat Papua, Lahan Perkebunan Sawit, tambang, infrastruktur energi kotor dan mega proyek skala besar seperti food estate, Pabrik Migas dan lainnya.

Peringatan hari bumi seharusnya bukan sekedar seremonial, namun harus dimaknai sebagai momentum reflektif dan tindakan nyata menjaga bumi menjadi tempat yang layak huni untuk semua semua entitas, baik itu makhluk biotik maupun abiotik, serta generasi mendatang.

Pada peringatan hari bumi 2024 yang bertema “Tanah Papua adalah Rumah Kita” (The Land
of Papua is Our Home), WALHI Papua menyerukan:

1. Mulai Hadirnya pemerintahahn Baru di Tanah Papua akan membangun kemandirian dalam kesiapsiagaan menghadapi risiko bencana, dengan antara lain mengkritisi secara aktif berbagai rencana, kebijakan, atau proyek yang dapat meningkatkan pencemaran, kerusakan lingkungan hidup dan kerawanan bencana

2. Melakukan desakan kepada institusi negara melalui Pemerintah daerah se tanah Papua
untuk meletakkan landasan bagi penyelamatan generasi yang akan datang melalui komitmen nyata memitigasi resiko kerusakan lingkungan, penurunan emisi gas rumah kaca yang ambisius dan tidak membahayakan nasib generasi yang akan datang

3. Membangun kekuatan politik rakyat dan agenda politik hijau guna memastikan terwujudnya keadilan ekologis bagi generasi hari ini dan generasi yang akan datang.